Bagaimana Cara Pembagian Keuntungan Menurut Syariah Islam

Bagaimana Cara Pembagian Keuntungan Menurut Syariah Islam

Tentang Cara pembagian keuntungan investasi menurut Syariat Islam, antara pemodal dan pebisnis, kita sebagai umat muslim mengenal pembagian menurut Syariat Islam dengan azas [ AL – MUDHARABAH ], artinye bagi hasil. Dimana pembagian hasil tersebut mengacu pada prinsif saling menguntungkan, jadi tidak ada niatan untuk saling mendzalimi antara investor dengan pengusaha tersebut.
Beberapa ulama mensyaratkan tiga prasyarat dalam pembagian keuntungan

1.  Mesti ada pemberitahuan kalau modal yang di keluarkan yaitu untuk untuk hasil keuntungan, bukanlah ditujukan untuk utang saja.

2.  Mesti diprosentasekan keuntungan untuk investor serta pengusaha

Keuntungan yang didapat harus juga terang, contoh untuk investor 40% serta entrepreneur 60%, 50% – 50%, 60% – 40%, 5 persen – 95% atau 95% – 5%. Hal semacam ini mesti diputuskan dari pertama akad.

Tak diperbolehkan membagi keuntungan 0% – 100% atau 100% – 0%.

Besar prosentase keuntungan yaitu bebas, bergantung perjanjian pada ke-2 iris pihak.

3.  Keuntungan cuma untuk ke-2 iris pihak

Tak bisa mengikut sertakan orang yg tidak ikut serta dalam usaha dengan prosentase spesifik. Contoh A yaitu investor serta B yaitu entrepreneur. Si B menyampaikan, “Istri saya si C mesti memperoleh 10 persen dari keuntungan. ” Walau sebenarnya istrinya tak ikut serta sekalipun dalam usaha. Jika ada orang lain yang dipekerjakan jadi diijinkan untuk memasukkan sisi orang itu dalam prosentase keuntungan.

Kapankah pembagian keuntungan dikira benar?

Keuntungan diperoleh jika semua modal investor sudah kembali 100%. Bila modal investor belum kembali semuanya, jadi entrepreneur tak memiliki hak memperoleh apa-apa.

Oleh karenanya, Al-Mudharabah mempunyai kemungkinan memikul kerugian untuk ke-2 iris pihak. Untuk investor dia kehilangan hartanya serta untuk entrepreneur dia tak memperoleh apa-apa dari jerih payahnya.

Sebagai contoh, diakhir pembagian hasil, entrepreneur cuma dapat membuahkan 80% modal, jadi 80% itu mesti diserahkan semuanya pada investor serta entrepreneur tak memperoleh apa-apa.

Apakah bisa entrepreneur mengambil jatah perbulan dari usahanya?

Jika hal itu masuk kedalam perhitungan cost operasional untuk usaha, jadi hal itu tak kenapa, contoh : duit makan siang saat bekerja, duit transportasi usaha, duit pulsa telephone untuk komunikasi usaha, jadi hal itu tak kenapa.

Namun bila dia mengambil keuntungan untuk dianya, jadi hal itu tak diijinkan.

Sebelumnya modal kembali serta belum memperoleh keuntungan jadi usaha itu memiliki resiko rugi. Oleh karenanya, tak diperbolehkan entrepreneur mengambil keuntungan dimuka, lantaran entrepreneur serta investor tak tahu apakah usahanya kelak bakal untung atau mungkin rugi.

Bagaimana pemecahannya supaya entrepreneur yg tidak mempunyai pekerjaan sambilan terkecuali usaha itu dapat memperoleh duit bulanan untuk hidupnya?

Jika entrepreneur berhutang pada simpanan usaha itu sebesar Rp 3 juta/bln., umpamanya, serta hal itu di setujui oleh investor, jadi hal itu diperbolehkan.

Hutang itu mesti dibayar. Hutang itu dapat dibayar dari hasil keuntungan nanti.

Jika entrepreneur berhutang Rp 10 juta, umpamanya, serta nyatanya pembagian keuntungannya dia memperoleh Rp 15 juta, jadi Rp 15 juta segera dipakai untuk membayar hutangnya Rp 10 juta. Serta entrepreneur memiliki hak memperoleh Rp 5 juta bekasnya.

Walau demikian, bila ternyata pembagian keuntungannya cuma Rp 8 juta, bermakna hutang entrepreneur belum terbayar semuanya. Entrepreneur masihlah berhutang Rp 2 juta pada investor.

Serta yang butuh di perhatikan serta diutamakan pada tulisan ini, dalam Al-Mudharabah, keuntungan diperoleh dari prosentase keuntungan bersih serta tidak dari modal.

Mengenai yang diaplikasikan di bebrapa instansi keuangan atau perusahan-perusahaan yang menerbitkan saham, keuntungan usaha diperoleh dari modal yang di keluarkan, serta modal yang diinvestasikan dapat di pastikan keamanannya serta tak ada kemungkinan kerugian, jadi terang sekali ini yaitu riba.

Sesudah membaca paparan diatas, pasti kita bakal tahu hikmah yang begitu besar didalam syariat kita. Bagaimana syariat kita mengatur supaya jangan pernah berlangsung kezaliman pada entrepreneur dengan investor, jangan pernah berlangsung riba serta jangan pernah perekonomian Islam melemah hingga bergantung dengan beberapa orang kafir.

Cobalah kita pikirkan bila semua usaha baik kecil ataupun besar mengaplikasikan system untuk hasil ini, jadi ini bakal jadi jalan keluar yang begitu hebat supaya terlepas dari beragam jenis riba yang telah membudaya di orang-orang kita.

Ini dapat jadi jalan keluar untuk beberapa orang yg tidak mempunyai modal hingga dapat mempunyai usaha mandiri serta ini dapat jadi jalan keluar untuk beberapa orang yg tidak mempunyai pekerjaan, hingga dapat buka lapangan pekerjaan untuk orang-orang.

Itulah paparan tentang bagaimana cara pembagian keuntungan investasi usaha menurut Suyariat Islam ini, semoga bermanfaat dan barokah.

Terima kasih atas kunjungan nya dan salam sukses selalu. Aminnn…

SB1M
SB1M
header niko 728 x 90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *