TAHUN BARU IMLEK 2017 – PERAYAAN TAHUN BARU MASYARAKAT TIONGHOA

TAHUN BARU IMLEK 2017 – PERAYAAN TAHUN BARU MASYARAKAT TIONGHOA

Berita – Tahun baru imlek 2017, merupakan tahun baru bagi warga Tionghoa yang ada di seluruh dunia, termasuk di Indonesia..Sehingga pemerintah Indonesia secara resmi menetapkannya sebagai hari libur nasional. Sebagaimana hari – hari besar agama lain di Indonesia.

Kebiasaan ini mereka rayakan setiap tahun, dengan berbagai cara keagamaan, seperti berdo;a, dan juga yang paling menarik kalau kita lihat pada hari raya imlek ini adalah desain warna merah di sekitar tempat peribadatan mereka. Ini merupakan ciri khas mereka, bahwa mereka sedang merayakan tahun baru Imlek.

Th. Baru Imlek dikira sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa serta mempunyai dampak pada perayaan th. baru di tetangga geografis Tiongkok, dan budaya yang dengannya orang Tionghoa berhubungan meluas. Ini termasuk juga Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, serta Jepang (sebelumnya 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, serta negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang penting, Th. Baru Imlek juga dirayakan, serta pada beragam derajat, sudah jadi sisi dari budaya tradisional dari negara-negara itu.

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK 2017
PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK 2017

Th. Baru Imlek adalah perayaan terutama orang Tionghoa. Perayaan th. baru imlek diawali di hari pertama bln. pertama (bhs Tionghoa : 正月 ; pinyin : zhēng yuè) di penanggalan Tionghoa serta selesai dengan Cap Go Meh 十五冥 元宵节 di tanggal ke lima belas (ketika bln. purnama). Malam th. baru imlek di kenal sebagai Chúxī 除夕 yang bermakna ” malam perubahan th. “.

Di Tiongkok, kebiasaan serta kebiasaan lokasi yang terkait dengan perayaan Th. Baru Imlek begitu bermacam. Tetapi, kesemuanya banyak sharing topik umum seperti perjamuan makan malam saat malam Th. Baru, dan penyulutan kembang api. Walau penanggalan Imlek dengan cara tradisional tak memakai nomer th. malar, penanggalan Tionghoa diluar Tiongkok kerapkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Sekurang-kurangnya saat ini ada tiga th. berangka 1 yang dipakai oleh beragam pakar, hingga pada th. 2009 masehi ” Th. Tionghoa ” bisa jadi th. 4707, 4706, atau 4646.

SEJARAH PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK DI INDONESIA

Orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia kembali memperoleh kebebasan merayakan th. baru Imlek pada th. 2000 saat Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomer 14/1967. Lalu Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan keluarkan Ketentuan Presiden Nomer 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang resmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (cuma berlaku untuk mereka yang merayakannya). Baru pada th. 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai satu diantara hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai th. 2003.

Video Imlek tahun 2017 :

Orang Tionghoa yang pertama kalinya mengusulkan larangan keseluruhan untuk merayakan Imlek, kebiasaan istiadat, serta budaya Tionghoa di Indonesia pada Presiden Soeharto sekitaran th. 1966-1967 yaitu Kristoforus Sindhunata dengan kata lain Ong Tjong Hay. Tetapi, Presiden Soeharto terasa usulan itu terlalu berlebih, serta tetaplah mengizinkan perayaan Imlek, kebiasaan istiadat, serta budaya Tionghoa tetapi diselengarakan cuma dirumah keluarga Tionghoa serta ditempat yang tertutup, perihal ini pula yang memicu diterbikannya Inpres No. 14/1967.

Di Indonesia, sepanjang th. 1968-1999, perayaan th. baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomer 14 Th. 1967, rezim Orde Baru dibawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segalanya yang berbau Tionghoa, salah satunya Imlek.

Pada th. 1946, saat Republik Indonesia baru berdiri, Presiden Soekarno keluarkan Penetapan Pemerintah mengenai hari-hari raya umat beragama No. 2/OEM-1946 yang pada pasal 4 nya diputuskan 4 hari raya orang Tionghoa yakni Th. Baru Imlek, hari meninggal dunianya Khonghucu (tanggal 18 bln. 2 Imlek), Ceng Beng serta hari lahirnya Khonghucu (tanggal 27 bln. 2 Imlek). Dengan hal tersebut dengan cara tegas bisa dinyatakan kalau Hari Raya Th. Baru Imlek Kongzili adalah hari raya Agama Tionghoa.

Th. itu juga di keluarkan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomer 06 Th. 1967 serta Ketentuan Menteri Perdagangan serta Koperasi Nomer 286/KP/XII/1978 yang berisi menyarankan kalau WNI keturunan yang masihlah memakai tiga nama untuk menggantinya dengan nama Indonesia sebagai usaha asimilasi. Hal semacam ini di dukung juga oleh Instansi Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB).

LPKB menyarankan keturunan Tionghoa, diantaranya, supaya :

1.  Menanggalkan serta menyingkirkan agama, keyakinan serta kebiasaan istiadat Tionghoa, termasuk juga bhs ataupun semuanya rutinitas serta kebudayaan Tionghoa dalam kehidupan keseharian, termasuk juga larangan untuk perayaan th. baru imlek.

2   Menikah dengan orang Indonesia pribumi asli.

3   Ingin melupakan serta tak memakai lagi nama Tionghoa.

Tubuh Koordinasi Permasalahan Cina (BKMC). BKMC ada dibawah BAKIN yang menerbitkan tidak kurang dari 3 jilid buku semasing setebal 500 halaman, yakni ” Dasar Penyelesaian Permasalahan Cina ” jilid 1 hingga 3. Dalam soal ini, pemerintahan Soeharto dengan dengan tegas berasumsi keturunan Cina serta rutinitas dan kebudayaan Cina, termasuk juga agama, keyakinan serta kebiasaan istiadat Tionghoa sebagai ” permasalahan ” yang merongrong negara serta mesti dikerjakan dengan cara selesai.

Pada 6 Desember 1967, Presiden Soeharto keluarkan Instruksi Presiden No. 14/1967 mengenai pembatasan Agama, Keyakinan serta Kebiasaan Istiadat Cina. Dalam instruksi itu diputuskan kalau semua Upacara Agama, Keyakinan serta Kebiasaan Istiadat Tionghoa cuma bisa dirayakan di lingkungan keluarga serta dalam ruang tertutup. Instruksi Presiden ini mempunyai tujuan mengeliminasi dengan cara systematis serta bertahap atas jati diri diri beberapa orang Tionghoa pada Kebudayaan Tionghoa termasuk juga Keyakinan, Agama serta Kebiasaan Istiadatnya. Dengan dikeluarkannya Inpres itu, semua Perayaan Kebiasaan serta Keagamaan Etnis Tionghoa termasuk juga Th. Baru Imlek, Cap Go Meh, Pehcun dsb dilarang dirayakan dengan cara terbuka. Demikian pula tarian Barongsai serta Liong dilarang ditampilkan.

Lalu dengan diterbitkannya SE Mendagri No. 477/74054 th. 1978 tertanggal 18 Nopember 1978 mengenai pembatasan aktivitas Agama, Keyakinan serta Kebiasaan Istiadat Cina, yang diisi diantaranya, kalau pemerintah menampik untuk mencatat perkawinan untuk yang Beragama Khonghucu serta penolakan pencantuman Khonghucu dalam kolom Agama di KTP, yang di dukung karenanya ada keadaan mulai sejak th. 1965-an atas penutupan serta larangan beroperasinya sekolah-sekolah Tionghoa, hal semacam ini mengakibatkan berlangsung eksodus serta migrasi jati diri diri beberapa besar beberapa orang Tionghoa kedalam Agama Kristen sekte Protestan, serta sekte Katolik, Buddha bahkan juga ke Islam. Demikian pula semua perayaan ritual kepercayaaan, agama serta kebiasaan istiadat Tionghoa termasuk juga perayaan Th. Baru baru Imlek jadi surut serta sirna.

Surat dari Dirjen Bimas Hindu serta Buddha Depag No H/BA. 00/29/1/1993 menyebutkan larangan merayakan Imlek di Vihara serta Cetya. Lalu Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) keluarkan Surat Edaran No 07/DPP-WALUBI/KU/93, tertanggal 11 Januari 1993 yang menyebutkan kalau Imlek tidaklah adalah hari raya agama Buddha, hingga Vihara Mahayana tak bisa merayakan th. baru Imlek dengan menggotong Toapekong, serta acara Barongsai.

Pada Imlek 2551 Kongzili pada th. 2000 Masehi, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) mengambil gagasan untuk merayakan Imlek dengan cara terbuka sebagai puncak Ritual Agama Khonghucu dengan cara Nasional dengan mengundang Presiden Abdurrahman Wahid untuk datang menghadirinya.

Pada tanggal 19 Januari 2001, Menteri Agama RI keluarkan Ketentuan No. 13/2001 mengenai penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif.

Ketika menghadiri perayaan Imlek 2553 Kongzili, yang diadakan Matakin dibulan Februari 2002 Masehi, Presiden Megawati Soekarnoputri menginformasikan mulai 2003, Imlek jadi Hari Libur Nasional. Pengumuman ini ditindak lanjuti dengan dikeluarkannya Ketentuan Presiden Republik Indonesia Nomer 19 th. 2002 mengenai Hari Th. Baru Imlek tertanggal 9 April.

Pada tanggal 17 Januari 2000, Presiden Abdurrahman Wahid keluarkan Keppres No. 6/2000 mengenai pencabutan Inpres N0. 14/1967 mengenai pembatasan Agama, Keyakinan serta Kebiasaan Istiadat Tionghoa. Dengan dikeluarkannya Keppres itu, orang-orang Tionghoa diberikan kebebasan untuk berpedoman agama, keyakinan, serta kebiasaan istiadatnya termasuk juga merayakan Upacara-upacara Agama seperti Imlek, Cap Go Meh dsb dengan cara terbuka.

KAPAN  TANGGAL DIADAKANNYA PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK

Beberapa orang mengacaukan th. kelahiran Tionghoa dengan th. kelahiran Gregorian mereka. Lantaran Th. Baru Imlek bisa diawali pada akhir Januari hingga pertengahan Februari, th. Tionghoa dari 1 Januari hingga hari imlek pada th. baru Gregorian tetaplah tak beralih dari th. terlebih dulu. Sebagai contoh, th. ular 1989 mulai pada 6 Februari 1989. Th. 1990 dikira oleh sebagian orang sebagai th. kuda. Tetapi, th. ular 1989 dengan cara resmi selesai pada 26 Januari 1990. Ini bermakna kalau siapa saja yang lahir dari 1 Januari ke 25 Januari 1990 sesungguhnya lahir pada th. ular alih-alih th. kuda.

Dalam kalender Gregorian, Th. Baru Imlek jatuh pada tanggal yang tidak sama tiap-tiap tahunnya, pada tanggal 21 Januari hingga 20 Februari. Dalam kalender Tionghoa, titik balik mentari musim dingin mesti berlangsung di bln. 11, yang bermakna Th. Baru Imlek umumnya jatuh pada bln. baru ke-2 sesudah titik balik mentari musim dingin (serta terkadang yang ketiga bila pada th. itu ada bln. kabisat). Di budaya tradisional di Tiongkok, lichun yaitu saat solar yang menandai dimulainya musim semi, yang berlangsung sekitaran 4 Februari.

Kalender suryacandra Tionghoa memastikan tanggal Th. Baru Imlek. Kalender itu juga dipakai di negara-negara yang sudah mengangkat atau sudah di pengaruhi oleh budaya Han (terlebih di Korea, Jepang, serta Vietnam) serta mungkin saja mempunyai asal yang sama dengan perayaan Th. Baru diluar Asia Timur (seperti Iran, serta pada jaman jaman dulu, daratan Bulgar).

Tanggal untuk Th. Baru Imlek dari 1996 hingga 2019 (dalam penanggalan Gregorian) bisa diliat di tabel diatas, berbarengan dengan shio hewan untuk th. itu serta cabang duniawinya. Berbarengan dengan daur 12-tahun semasing dengan shio hewan ada daur 10-tahun batang surgawi. Tiap-tiap surgawi dihubungkan dengan satu diantara lima elemen perbintangan Tionghoa, yakni : Kayu, Api, Bumi, Logam, serta Air. Unsur-unsur itu diputar tiap-tiap dua th. sekali sesaat perkaitan yin serta yang silih bertukar tiap-tiap th.. Unsur-unsur itu dengan itu dibedakan jadi : Kayu Yang, Kayu Yin, Api Yang, Api Yin, dan sebagainya. Hal semacam ini membuahkan satu daur paduan yang berulang tiap-tiap 60 th.. Sebagai contoh, th. dari Tikus Api Yang berlangsung pada 1936 serta pada th. 1996.

Demikianlah ulasan tentang perayaan tahun baru Imlek tahun 2017 ini, semoga lancar dan sukses selalu.

 

SB1M
SB1M
header niko 728 x 90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *